Washington, LOGIC.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat gebrakan dengan mengumumkan tarif impor sebesar 100% untuk semua film yang diproduksi di luar negeri. Keputusan ini diambil karena Trump menilai industri film AS tengah mengalami "kematian yang sangat cepat", akibat meningkatnya insentif dari negara-negara lain yang berhasil menarik para pembuat film internasional.
"Dunia sedang melakukan upaya terkoordinasi untuk melemahkan Hollywood, dan ini merupakan ancaman bagi keamanan nasional kita. Selain itu, ini adalah soal pesan dan propaganda," tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social.
Langkah ini mengikuti keputusan Trump pada Januari lalu yang menunjuk tiga nama besar di dunia perfilman—Jon Voight, Sylvester Stallone, dan Mel Gibson—untuk menghidupkan kembali Hollywood agar "lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari sebelumnya."
Produksi Film Lari dari Hollywood
Selama bertahun-tahun, produksi film dan serial televisi AS telah beralih ke negara-negara yang menawarkan insentif pajak yang lebih menarik, seperti Kanada, Inggris, dan Australia. Negara-negara tersebut memberikan kredit pajak dan potongan tunai untuk menarik produksi dan menguasai pangsa pasar dari dana global sebesar $248 miliar yang diproyeksikan akan digunakan untuk pembuatan konten pada 2025, menurut Ampere Analysis.
Perusahaan media besar seperti Walt Disney, Netflix, dan Universal Pictures diketahui sering melakukan syuting di luar negeri. Bahkan beberapa film superhero Marvel diproduksi di Australia, sementara Selandia Baru menjadi lokasi syuting dari trilogi legendaris "The Lord of the Rings."
Merespons kebijakan Trump, para pemimpin di Australia dan Selandia Baru menyatakan akan mendukung penuh industri perfilman lokal mereka, yang kini menjadi incaran banyak rumah produksi global.
Industri Film AS dalam Tekanan
Berdasarkan data ProdPro, sekitar 50% dari dana yang dihabiskan produser film dan TV asal AS pada 2023 untuk proyek-proyek dengan anggaran lebih dari $40 juta dialihkan ke luar negeri. FilmLA, lembaga nirlaba yang memantau aktivitas produksi di wilayah Los Angeles, menyebutkan bahwa selama satu dekade terakhir, jumlah produksi di kota tersebut menurun hampir 40%.
Bencana kebakaran hutan yang terjadi pada Januari lalu juga memperkuat kekhawatiran bahwa para kru film—dari juru kamera hingga teknisi suara—akan meninggalkan Los Angeles demi mencari tempat yang lebih stabil dan terjangkau untuk bekerja.
Dalam survei ProdPro terhadap para eksekutif industri, California hanya menempati posisi keenam sebagai lokasi favorit untuk produksi selama dua tahun ke depan. Daerah seperti Toronto, Inggris, Vancouver, Eropa Tengah, dan Australia justru lebih dipilih.
Menyikapi hal ini, sejumlah produser Hollywood dan serikat pekerja perfilman terus mendesak Gubernur California Gavin Newsom agar meningkatkan insentif pajak di negara bagian tersebut demi menjaga daya saing dengan lokasi syuting luar negeri.
Ancaman Retaliasi Global
Kebijakan tarif film Trump dinilai sebagai lanjutan dari rangkaian kebijakan perdagangan kontroversial yang sempat mengguncang pasar dan memicu kekhawatiran resesi di masa lalu. William Reinsch, mantan pejabat senior di Departemen Perdagangan dan kini menjadi peneliti di Center for Strategic and International Studies, memperingatkan bahwa langkah ini bisa berbalik merugikan industri film AS.
"Retaliasi dari negara lain bisa sangat fatal bagi industri kita. Kita lebih banyak kehilangan daripada mendapat untung dari kebijakan ini," ujar Reinsch. Ia juga menambahkan bahwa sulit untuk membenarkan langkah ini dari sisi keamanan nasional atau darurat nasional dalam konteks film.
