Indonesia Marah, Rakyat Iran Justru Rayakan Kematian Khamenei

LOGIC.co.id - Pada 28 Februari 2026, dunia dikejutkan oleh operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan Iran. Dalam hitungan menit, serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama puluhan pejabat senior militer dan politik negara itu.

Operasi yang dilaporkan menggunakan kombinasi serangan udara presisi, intelijen satelit, serta serangan siber tersebut diberi nama “Epic Fury” atau “Roar of the Lion.” Dalam waktu kurang dari satu menit, sejumlah pusat komando dan lokasi strategis di Teheran dihantam secara bersamaan.

- Advertisement -

Serangan ini bukan sekadar operasi militer biasa. Banyak analis menilai peristiwa tersebut sebagai puncak dari konflik panjang antara Iran dan Barat yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Kematian Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989, tidak hanya menutup satu era kepemimpinan di Republik Islam Iran, tetapi juga membuka babak baru ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Namun reaksi terhadap peristiwa ini tidak seragam. Jika di Indonesia kematian Khamenei memicu kemarahan dan solidaritas terhadap Iran, di dalam negeri Iran sendiri respons masyarakat jauh lebih kompleks dan terbelah.

- Advertisement -

Mengapa Amerika Serikat Menyerang?

Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, menyebut serangan tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman yang semakin besar dari Iran.

Menurut Washington, negosiasi nuklir antara kedua negara telah mencapai jalan buntu. Intelijen Amerika Serikat menilai Iran semakin mendekati kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir, sesuatu yang dianggap sebagai ancaman serius bagi stabilitas global.

Dalam pernyataannya, Trump menuduh Iran sedang membangun apa yang ia sebut sebagai “perisai konvensional untuk pemerasan nuklir.” Selain program nuklir, Washington juga menyoroti pengembangan misil balistik Iran yang dinilai mampu menjangkau berbagai wilayah di Timur Tengah, bahkan berpotensi mencapai target yang lebih jauh.

- Advertisement -

Trump bahkan menyatakan bahwa kematian Khamenei dapat menjadi “kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negara mereka.”

Selain isu nuklir, Amerika Serikat juga menuduh Iran selama bertahun-tahun mendukung berbagai kelompok militan di kawasan, termasuk Hezbollah di Lebanon, Houthi di Yaman, serta sejumlah milisi bersenjata di Irak dan Suriah.

Pemerintah Amerika Serikat beralasan bahwa serangan tersebut juga bertujuan menghancurkan infrastruktur militer Iran, termasuk fasilitas strategis angkatan laut dan pusat komando militer.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan bahwa operasi tersebut merupakan langkah pencegahan.

“Ini adalah tindakan pencegahan karena Israel sudah siap bertindak, dan kami harus melindungi pasukan kami dari balasan Iran,” ujarnya.

Eskalasi Terbesar Sejak Kematian Soleimani

Banyak pengamat melihat operasi ini sebagai eskalasi paling besar sejak pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani oleh Amerika Serikat pada 2020.

Namun skala serangan kali ini jauh lebih besar. Laporan awal menyebutkan sekitar 40 pejabat senior Iran tewas dalam waktu kurang dari 60 detik akibat rangkaian serangan yang terkoordinasi.

Serangan tersebut juga menimbulkan korban sipil, termasuk laporan tragis mengenai serangan terhadap sebuah sekolah yang menewaskan puluhan anak.

Iran kemudian merespons dengan serangan balasan besar-besaran. Beberapa laporan menyebutkan Teheran meluncurkan misil ke berbagai target militer yang terkait dengan Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk pangkalan militer di Qatar dan Uni Emirat Arab.

Situasi ini memicu kekhawatiran internasional bahwa konflik dapat berkembang menjadi perang regional yang jauh lebih luas.

Indonesia Marah dan Melihatnya sebagai Perang Agama

Di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, kematian Khamenei langsung memicu gelombang reaksi keras.

Banyak masyarakat melihat serangan tersebut sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap negara Muslim. Di media sosial, narasi yang berkembang bahkan menyebut konflik ini sebagai “perang antara Barat dan dunia Islam.”

Demonstrasi anti-Amerika muncul di beberapa kota besar, termasuk Jakarta. Massa membawa spanduk kecaman terhadap Donald Trump, membakar bendera Amerika Serikat, dan menyerukan solidaritas terhadap Iran.

Sebagian kelompok masyarakat bahkan menyamakan peristiwa ini dengan konflik yang lebih luas di Timur Tengah, termasuk isu Palestina.

Namun di tengah gelombang kemarahan tersebut, ada juga suara yang mencoba melihat konflik ini dari perspektif yang berbeda. Beberapa analis menilai bahwa konflik antara Iran dan Amerika Serikat tidak semata-mata didorong oleh faktor agama, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh kepentingan geopolitik dan keamanan regional.

Realitas di Iran Jauh Lebih Rumit

Berbeda dengan persepsi yang berkembang di banyak negara Muslim, situasi di Iran sendiri jauh lebih kompleks.

Secara resmi, pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung nasional. Jutaan orang turun ke jalan di Teheran dan kota-kota lain untuk mengenang Khamenei.

Bagi pendukung pemerintah, Khamenei dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Barat. Banyak dari mereka menyebutnya sebagai pemimpin yang menjaga kedaulatan Iran selama lebih dari tiga dekade.

Namun di sisi lain, tidak sedikit warga Iran yang memiliki pandangan berbeda.

Selama bertahun-tahun, Iran mengalami gelombang protes besar yang dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari krisis ekonomi, pembatasan kebebasan sosial, hingga ketidakpuasan terhadap sistem politik teokratis.

Bagi sebagian kelompok oposisi dan disiden, Khamenei bukan hanya pemimpin negara, tetapi simbol dari sistem kekuasaan yang mereka anggap represif.

Di media sosial dan komunitas diaspora Iran, muncul sejumlah pernyataan yang secara terbuka menyambut kematian Khamenei sebagai peluang perubahan politik.

Beberapa warga bahkan menyebut kematian pemimpin tersebut sebagai “akhir dari era penindasan.”

Polarisasi ini menunjukkan bahwa masyarakat Iran tidak sepenuhnya bersatu dalam memandang sosok Khamenei.

Konflik yang Lebih Kompleks dari Sekadar Agama

Perbedaan reaksi antara Indonesia dan Iran memperlihatkan bagaimana sebuah konflik internasional dapat dipahami secara sangat berbeda oleh berbagai masyarakat.

Bagi banyak orang di Indonesia, konflik ini sering dilihat sebagai pertarungan antara Barat dan dunia Islam.

Namun bagi sebagian rakyat Iran sendiri, persoalan yang mereka hadapi jauh lebih berkaitan dengan politik domestik, kebebasan sipil, dan masa depan negara mereka.

Dengan kata lain, konflik ini bukan sekadar persoalan agama, tetapi perpaduan rumit antara geopolitik, kekuasaan, dan perjuangan politik internal.

Timur Tengah di Persimpangan Sejarah

Kematian Khamenei meninggalkan kekosongan kekuasaan besar di Iran. Sebagai pemimpin tertinggi, ia memegang kendali atas militer, lembaga keagamaan, serta arah kebijakan negara.

Kini Iran menghadapi masa transisi yang tidak pasti.

Sementara itu, ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus meningkat. Jika konflik ini terus berkembang, Timur Tengah berpotensi menghadapi krisis yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Satu hal yang pasti: peristiwa ini telah mengubah peta politik kawasan dan memicu perdebatan global yang tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

Baca Juga
TERKAIT
TERKINI