LOGIC.co.id - Pada 28 Februari 2026, dunia terguncang oleh serangan gabungan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi yang digambarkan sebagai "pukulan pre-emptive" terhadap ancaman nuklir dan dukungan terorisme Iran. Presiden Donald Trump menyebutnya sebagai "kesempatan emas" bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka, tapi reaksi global justru menunjukkan jurang yang dalam: di Iran, polarisasi antara perayaan dan duka; di Indonesia, kecaman tajam yang melabeli aksi Trump sebagai perang agama. Ini bukan sekadar konflik militer, ini adalah bom waktu ideologis yang mengancam stabilitas global.
Serangan yang Mematikan: Dari Negosiasi ke Ledakan
Serangan dimulai dengan ledakan di Tehran, menewaskan Khamenei dan puluhan pemimpin senior dalam hitungan menit. AS mengklaim ini untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan menghancurkan misil balistiknya, sementara Israel melihatnya sebagai respons terhadap dukungan Iran kepada kelompok seperti Hezbollah dan Houthi. Trump, dari Air Force One, memerintahkan serangan setelah negosiasi nuklir mandek, memperingatkan bahwa Iran "akan menyerang lebih dulu" jika dibiarkan. Iran membalas dengan misil ke 14 negara, termasuk basis AS di Qatar dan UAE, memicu kekhawatiran perang dunia. Korban sipil meningkat, termasuk serangan ke sekolah yang menewaskan 100 anak, membuat situasi semakin panas.
Di Iran: Antara Tarian Kemenangan
Judul ini mungkin terdengar provokatif, tapi fakta menunjukkan polarisasi ekstrem di Iran. "bersyukur," tapi banyak terutama oposisi merayakan kematian Khamenei sebagai akhir era penindasan. Di Tehran, Karaj, Shiraz, dan Isfahan, video menunjukkan orang menari di jalan, menyalakan kembang api, dan berteriak "freedom!" sambil melepas hijab. Seorang warga Tehran berkata, "Saya tertawa dan bahagia untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun." Di diaspora, perayaan lebih terbuka, dengan bendera pra-revolusi dikibarkan.
Di Indonesia: Kecaman Tajam, Label Perang Agama
Kontras dengan Iran, reaksi di Indonesia mayoritas negatif dan tajam. Sebagai negara Muslim terbesar, banyak melihat serangan ini sebagai agresi imperialis AS-Israel terhadap umat Islam, memicu narasi "perang agama." Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan kondolensi mendalam dan mengecam serangan sebagai "bukti nyata" kebencian Trump terhadap Islam, mendesak Indonesia keluar dari Board of Peace (inisiatif Trump untuk Gaza). Demonstrasi di Jakarta menuntut pemerintah Prabowo Subianto menarik diri dari kerjasama AS, dengan seruan jihad dan kritik bahwa serangan ini "menyinggung umat Islam secara umum."
Pemerintah Indonesia tetap netral: Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan "penyesalan mendalam" atas eskalasi dan tawarkan mediasi, tapi ini dikritik sebagai terlalu lunak. Tekanan domestik meningkat, dengan anggota DPR menuduh Prabowo tak cukup bela Palestina dan Iran. Bagi banyak warga Indonesia, ini bukan konflik geopolitik, ini serangan terhadap solidaritas Muslim, mirip reaksi atas pembunuhan Soleimani di 2020.
Polarisasi yang Mengancam: Dari Tehran ke Jakarta
Konflik ini telah menewaskan ratusan, memicu pembalasan Iran, dan mengganggu pasar global. Di Iran, kematian Khamenei membuka peluang perubahan tapi juga risiko kekacauan internal. Di Indonesia, ini memperkuat anti-Barat, berpotensi merusak hubungan ekonomi dengan AS. Trump mungkin melihatnya sebagai kemenangan, tapi label "perang agama" bisa memicu gelombang radikalisasi. Pertanyaannya: apakah ini akhir tirani, atau awal perang yang lebih besar? Fakta menunjukkan, jawabannya tergantung siapa yang Anda tanya.
