Dubai, LOGIC.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington hampir mencapai kesepakatan nuklir baru dengan Iran. Ia menyebut Teheran “semacam” telah menyetujui sejumlah ketentuan utama dalam perjanjian tersebut.
“Kami sedang dalam negosiasi yang sangat serius dengan Iran untuk perdamaian jangka panjang,” ujar Trump saat melakukan kunjungan ke kawasan Teluk, dikutip dari laporan pool yang dibagikan AFP, Kamis (15/5/2025).
“Kami mungkin akan mencapai kesepakatan tanpa harus menempuh jalan kekerasan... ada dua cara untuk menyelesaikan ini—cara damai dan cara kekerasan. Saya tidak ingin menempuh jalan kedua,” lanjutnya.
Negosiasi Masih Berjalan, Harga Minyak Turun
Pernyataan Trump ini langsung berdampak pada pasar energi. Harga minyak dunia turun sekitar US$2 karena ekspektasi bahwa kesepakatan nuklir AS-Iran akan membawa pelonggaran sanksi terhadap Teheran, yang bisa meningkatkan suplai minyak global.
Sumber dari pihak Iran yang mengetahui jalannya negosiasi mengungkapkan bahwa masih ada sejumlah perbedaan yang harus dijembatani dalam pembicaraan. Negosiasi terakhir antara Iran dan AS digelar di Oman pada Minggu lalu, dan akan dilanjutkan dalam waktu dekat.
Meski kedua negara mengaku lebih memilih jalur diplomasi, pembahasan masih terhambat sejumlah "garis merah" dari masing-masing pihak.
Iran Bersedia Kompromi, Tapi Minta Sanksi Dicabut
Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News, penasihat pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Ali Shamkhani, menyebut Teheran bersedia mencapai kesepakatan nuklir baru.
Iran, kata Shamkhani, siap:
- Berkomitmen untuk tidak membuat senjata nuklir
- Menghilangkan stok uranium yang diperkaya tinggi
- Hanya memperkaya uranium pada tingkat rendah untuk kebutuhan sipil
- Mengizinkan inspeksi internasional atas fasilitas nuklir
Namun, Iran menuntut imbal balik yang jelas—yakni penghapusan sanksi ekonomi utama oleh Amerika Serikat.
Sayangnya, pihak AS belum menunjukkan kesediaan untuk mencabut sanksi besar, menurut sumber Iran. Washington juga menolak permintaan Iran agar pengurangan stok uranium dilakukan secara bertahap, serta masih ada perbedaan pendapat soal negara tujuan pengiriman uranium yang telah diperkaya.
Iran Tegaskan Hak untuk Memperkaya Uranium
Meski menunjukkan sikap terbuka, Iran menegaskan bahwa penghentian penuh kegiatan pengayaan uranium adalah garis merah yang tidak bisa dinegosiasikan.
“Iran bersedia menurunkan tingkat pengayaan, tapi tidak akan menghentikan haknya untuk memperkaya uranium di wilayahnya sendiri,” kata sumber tersebut.
Iran juga bersikeras bahwa stok uranium tidak boleh dikurangi di bawah batas yang disepakati dalam perjanjian nuklir 2015—perjanjian yang ditinggalkan Trump pada masa pemerintahannya sebelumnya.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bahkan mengecam retorika Trump, menyebutnya sebagai upaya menciptakan instabilitas di kawasan.
“Trump pikir dia bisa menjatuhkan sanksi, mengancam kami, lalu berbicara soal HAM. Semua kekacauan dan ketidakstabilan kawasan berasal dari mereka (AS),” ujar Pezeshkian pada Selasa lalu.
