LOGIC.co.id – Amerika Serikat (AS) dikenal sebagai sekutu paling setia Israel dan kerap mengambil sikap tegas terhadap Iran. Dukungan tanpa kompromi terhadap Israel dan serangan militer terhadap Iran pun kembali menjadi sorotan global, terutama usai operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Presiden Donald Trump pada 21 Juni 2025.
Lantas, mengapa AS terus berada di belakang Israel dan memilih menyerang Iran?
Sejak Kapan AS Mendukung Israel?
Dukungan AS terhadap Israel telah dimulai sejak awal berdirinya negara tersebut. Pada 14 Mei 1948, saat Israel mendeklarasikan kemerdekaannya, Presiden AS ke-33, Harry S. Truman, menjadi kepala negara pertama yang secara resmi mengakui kedaulatan Israel.
Kemudian, pada 28 Maret 1949, hubungan diplomatik formal antara kedua negara dimulai dengan penyerahan surat kepercayaan dari Duta Besar James Grover McDonald. Sejak saat itu, kerja sama kedua negara terus menguat, terutama dalam berbagai konflik di kawasan Timur Tengah.
Dukungan AS terhadap Israel dalam Konflik Militer
Selama Perang Enam Hari tahun 1967 dan Perang Yom Kippur tahun 1973, AS menunjukkan dukungan nyata terhadap Israel. Di masa kepemimpinan Presiden Richard Nixon, AS bahkan mengirimkan bantuan militer besar-besaran untuk membantu Israel melawan koalisi Mesir dan Suriah.
Dukungan ini bukan sekadar solidaritas politik, melainkan juga bagian dari strategi geopolitik selama era Perang Dingin. Israel dipandang sebagai sekutu strategis untuk membendung pengaruh Uni Soviet di kawasan.
Pasca berakhirnya Perang Dingin pada awal 1990-an, hubungan AS-Israel tetap solid dan bahkan semakin erat. Dukungan ini berlanjut hingga era pemerintahan Presiden Joe Biden. Saat konflik Hamas-Israel kembali memanas pada Oktober 2023, Biden menegaskan komitmennya, “AS akan selalu berdiri bersama Israel,” ujarnya dalam pertemuan dengan PM Israel Benjamin Netanyahu di Tel Aviv, 18 Oktober 2023.
Mengapa Amerika Serikat Serang Iran?
Ketegangan antara AS dan Iran mencapai puncaknya pada 21 Juni 2025. Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah melakukan serangan presisi terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran: Fordo, Natanz, dan Isfahan.
“Beberapa waktu lalu, militer AS melancarkan serangan presisi besar-besaran terhadap tiga fasilitas nuklir utama milik rezim Iran,” kata Trump, dikutip dari Fox News. Ia menambahkan, keputusan tersebut diambil setelah dua minggu pertimbangan karena Iran dinilai gagal menanggapi ajakan negosiasi terkait program nuklirnya.
Tujuan utama serangan ini, menurut Trump, adalah untuk menghentikan potensi ancaman nuklir dari Iran yang disebutnya sebagai “negara sponsor terorisme nomor satu di dunia.”
Alasan Strategis Serangan AS: Nuklir dan Permusuhan Lama
Trump menegaskan bahwa Iran telah menjadi ancaman nyata bagi AS dan Israel selama lebih dari empat dekade. “Iran selama 40 tahun berteriak ‘Matilah Amerika’, ‘Matilah Israel’. Mereka telah membunuh rakyat kami, meledakkan lengan dan kaki mereka dengan bom pinggir jalan,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani pada Januari 2020 sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mencegah perang lebih besar. “Iran sekarang harus memilih damai. Jika tidak, serangan berikutnya akan jauh lebih besar dan lebih mudah dilakukan,” ancam Trump.
AS Gunakan Bom Penghancur Bunker dan Jet Siluman Canggih
Dalam serangan tersebut, militer AS menggunakan bom penghancur bunker GBU-57A/B Massive Ordnance Penetrator (MOP) yang memiliki berat lebih dari 13 ton dan dilengkapi lebih dari 2,7 ton bahan peledak.
Bom ini diluncurkan dari pesawat pengebom siluman B-2 Spirit — satu-satunya pesawat di dunia yang mampu membawa MOP. Trump pun mengonfirmasi bahwa pesawat ini digunakan dalam operasi militer terhadap Iran.
“MOP dirancang untuk menghancurkan senjata pemusnah massal di fasilitas bawah tanah musuh,” tulis pernyataan resmi Angkatan Udara AS.
Mengapa AS Selalu Mendukung Israel dan Bersikap Keras terhadap Iran?
Dukungan Amerika Serikat terhadap Israel didasarkan pada alasan strategis, historis, dan ideologis. Sementara itu, langkah militer terhadap Iran merupakan bagian dari upaya menekan pengembangan senjata nuklir dan membatasi pengaruh negara yang dianggap sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas kawasan.
Dengan mempertahankan aliansi jangka panjang bersama Israel dan secara agresif menekan Iran, AS berupaya menjaga dominasinya dalam dinamika geopolitik Timur Tengah—sebuah kawasan yang terus bergolak hingga saat ini.
