Gaza, LOGIC.co.id – Serangan udara Israel pada Kamis (14/5/2025) menewaskan sedikitnya 60 orang di Jalur Gaza, menurut laporan petugas medis Palestina. Mayoritas korban, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas di Khan Younis, Gaza selatan, setelah serangan menghantam rumah-rumah dan tenda pengungsi.
Salah satu korban yang dilaporkan adalah Hassan Samour, seorang jurnalis lokal yang bekerja untuk stasiun radio Aqsa milik Hamas. Ia tewas bersama 11 anggota keluarganya ketika rumah mereka hancur akibat serangan.
Hingga berita ini ditulis, militer Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait serangan tersebut. Serangan terbaru ini merupakan bagian dari operasi militer Israel yang semakin intensif di Gaza dalam upaya menghancurkan Hamas, sebagai balasan atas serangan mematikan kelompok tersebut ke wilayah Israel pada Oktober 2023.
Trump Kunjungi Timur Tengah, Mediasi Damai Berjalan Lambat
Serangan terjadi bersamaan dengan kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Timur Tengah dan upaya diplomatik yang tengah dijalankan oleh mediator Arab dan AS untuk mendorong gencatan senjata antara Hamas dan Israel.
Namun, menurut Hamas, Israel menggunakan pendekatan militer untuk memperkuat posisi dalam negosiasi.
"Israel berusaha bernegosiasi di balik serangan militer terhadap warga sipil yang tak bersalah," bunyi pernyataan resmi Hamas.
Negosiasi tidak langsung masih berlangsung di Doha, Qatar, melibatkan utusan Trump serta mediator dari Mesir dan Qatar.
Warga Gaza: Ini Lebih Buruk dari Nakba 1948
Serangan Kamis ini bertepatan dengan peringatan Nakba—peristiwa tahun 1948 ketika ratusan ribu warga Palestina mengungsi akibat pembentukan negara Israel.
Bagi warga Gaza yang kini hidup dalam pengungsian internal dan keterbatasan, kondisi saat ini disebut bahkan lebih buruk.
“Apa yang kami alami sekarang lebih parah daripada Nakba 1948,” kata Ahmed Hamad, warga Gaza City yang telah beberapa kali mengungsi.
“Kami hidup dalam kondisi kekerasan dan pengungsian terus-menerus. Di mana pun kami berada, selalu ada serangan. Kematian ada di sekitar kami.”
Perundingan Gencatan Senjata Mandek, Hamas Siap Bebaskan Sandera
Kementerian Kesehatan Palestina mencatat bahwa serangan pada Rabu sebelumnya telah menewaskan setidaknya 80 orang.
Total korban tewas warga Palestina sejak invasi Israel ke Gaza mencapai lebih dari 52.900 jiwa, menurut data lokal.
Sementara itu, Hamas menyatakan kesediaannya membebaskan seluruh sandera yang masih ditahan di Gaza jika Israel menyetujui penghentian perang total.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap menolak penghentian penuh. Ia hanya mempertimbangkan gencatan senjata sementara, menegaskan bahwa perang hanya akan berakhir jika Hamas benar-benar dihancurkan.
“Hari ini, saat para mediator berupaya mengembalikan perundingan ke jalur yang benar, Israel justru membalas dengan tekanan militer terhadap warga sipil,” ujar Hamas dalam pernyataan terpisah.
Israel menginvasi Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 warga Israel dan asing.
Kondisi Gaza: Ambang Kelaparan, Bantuan Kemanusiaan Mandek
Serangan dan blokade berkepanjangan membuat Gaza berada di ambang kelaparan, menurut badan-badan kemanusiaan dunia.
Tidak ada bantuan kemanusiaan yang masuk sejak 2 Maret 2025, dan menurut lembaga pemantau kelaparan global, setengah juta warga Gaza kini menghadapi ancaman kelaparan akut.
Sebuah lembaga bantuan kemanusiaan yang didukung AS dijadwalkan mulai beroperasi di Gaza akhir Mei ini, namun mendesak Israel untuk segera mengizinkan PBB dan organisasi lain melanjutkan pengiriman bantuan sebelum rencana distribusi baru dijalankan.
