Israel Serang Penjaga Bantuan, PBB Sebut Bantuan Masuk Hanya Satu Sendok Teh

Gaza, LOGIC.coid – Serangan udara Israel dilaporkan menewaskan setidaknya enam warga Palestina yang tengah mengamankan truk bantuan kemanusiaan dari aksi penjarahan, menurut pejabat Hamas, Jumat (24/5). Peristiwa ini terjadi di tengah peringatan dari Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, yang menyebut pasokan bantuan ke Gaza saat ini hanya “seukuran sendok teh” akibat blokade Israel yang sudah berlangsung 11 minggu.

Meski Israel mengklaim telah mengizinkan masuknya 305 truk bantuan sejak blokade dilonggarkan pada Senin (20/5), distribusi ke pengungsi di tenda dan tempat penampungan darurat tetap terhambat. Militer Israel menyebutkan 107 truk membawa tepung, makanan, dan pasokan medis berhasil masuk dari perlintasan Kerem Shalom pada Kamis.

- Advertisement -

Namun, menurut jaringan organisasi bantuan Palestina, hanya 119 truk yang berhasil mendistribusikan bantuan ke dalam wilayah Gaza sejak pelonggaran blokade. Jaringan tersebut juga mengungkapkan, proses distribusi terganggu oleh penjarahan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata di sekitar Khan Younis.

“Mereka merampas makanan yang seharusnya ditujukan untuk anak-anak dan keluarga yang tengah menghadapi kelaparan ekstrem,” kata jaringan tersebut dalam pernyataan resmi. Mereka juga mengecam serangan udara Israel yang menargetkan tim keamanan yang mengawal distribusi bantuan.

PBB Soroti Kondisi Gawat Gaza

Program Pangan Dunia (WFP) menyampaikan bahwa 15 truk yang membawa tepung ke roti-rotian yang mereka dukung telah dijarah. WFP menilai kondisi yang sangat buruk di Gaza menyebabkan meningkatnya ketidakamanan dan keputusasaan warga.

- Advertisement -

“Hunger, desperation, and anxiety over whether more food aid is coming is contributing to rising insecurity,” sebut pernyataan resmi WFP.

Hamas mengonfirmasi enam anggotanya yang bertugas menjaga keamanan distribusi bantuan menjadi korban dalam serangan tersebut. Sementara itu, Israel menuduh Hamas mencuri bantuan yang ditujukan untuk warga sipil, tuduhan yang dibantah Hamas. Mereka menyatakan bahwa beberapa pejuangnya justru tewas saat melindungi truk bantuan dari penjarah bersenjata.

Pihak militer Israel belum memberikan komentar resmi. Namun, seorang pejabat militer menyebut Hamas “menggunakan istilah ‘pengawal’ atau ‘pelindung’ untuk menyamarkan aksi yang sebenarnya justru menghambat proses distribusi bantuan.”

- Advertisement -

Tekanan Internasional Meningkat

Lebih dari dua juta warga Gaza kini terdesak di wilayah sempit, terutama di kawasan pesisir dan sekitar Khan Younis. Tekanan internasional agar bantuan segera masuk pun terus meningkat.

“Tanpa akses bantuan yang cepat, aman, andal, dan berkelanjutan, akan lebih banyak korban jiwa – dan dampak jangka panjangnya terhadap seluruh populasi akan sangat mendalam,” ujar Sekjen PBB António Guterres.

Pemerintah Jerman turut menyoroti lambannya pengiriman bantuan. “Terlalu sedikit, terlalu lambat, dan datang terlambat,” kata juru bicara pemerintah Jerman, menekankan perlunya peningkatan signifikan dalam distribusi bantuan.

Israel telah mengumumkan sistem distribusi baru yang didukung oleh Amerika Serikat dan akan dioperasikan oleh kontraktor swasta dari empat titik distribusi di selatan Gaza. Namun, mekanisme sistem ini masih belum jelas, dan PBB menolak ikut serta dalam sistem tersebut, menyebutnya terlalu terikat pada kepentingan politik dan militer Israel.

Militer Israel mengatakan pihaknya hanya akan bertugas menjaga keamanan di pusat-pusat distribusi tersebut dan tidak akan terlibat langsung dalam pembagian bantuan.

Konflik Berlanjut, Korban Terus Bertambah

Di tengah masuknya bantuan secara terbatas, operasi militer Israel di Gaza terus berlangsung. Militer melaporkan bahwa pihaknya telah meluncurkan serangan udara dan darat semalam, menghantam 75 target termasuk gudang senjata dan peluncur roket. Layanan medis Palestina menyebutkan setidaknya 25 orang tewas akibat serangan tersebut.

Konflik ini dipicu oleh serangan lintas batas yang dilakukan militan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang berdasarkan data Israel, serta menyebabkan 251 orang disandera ke Gaza. Sebagai balasan, Israel meluncurkan kampanye militer besar-besaran yang hingga kini telah menewaskan lebih dari 53.600 warga Palestina, menurut otoritas kesehatan Gaza.

Organisasi bantuan juga melaporkan tanda-tanda malnutrisi parah yang mulai meluas di wilayah tersebut.

Baca Juga
TERKAIT
TERKINI