Jakarta, LOGIC.co.id - Hubungan antara Prabowo Subianto dan Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, ormas yang didirikan oleh Hercules Rosario de Marshal, telah lama menjadi sorotan publik. Salah satu momen krusial dalam hubungan ini adalah peresmian kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GRIB Jaya di Jakarta Barat pada Mei 2012, yang dihadiri langsung oleh Prabowo sebagai Ketua Dewan Pembina. Namun, peran Prabowo di GRIB Jaya berakhir dengan pengunduran dirinya pada 2022, memicu kontroversi yang masih bergema hingga kini.
Latar Belakang: GRIB Jaya dan Prabowo Subianto
GRIB Jaya, yang awalnya bernama Gerakan Rakyat Indonesia Baru, didirikan pada 2011 oleh Hercules, mantan preman Tanah Abang dengan latar belakang sebagai Tenaga Bantuan Operasi (TBO) di Timor Timur. Organisasi ini dibentuk dengan misi mendukung ambisi politik Prabowo Subianto, pendiri Partai Gerindra, untuk menjadi presiden. GRIB Jaya berfungsi sebagai sayap operasional tidak resmi Gerindra, menggalang dukungan dari kelompok akar rumput seperti mantan militer, preman, dan komunitas bela diri.
Prabowo, yang memiliki hubungan pribadi dengan Hercules sejak operasi militer di Timor Timur pada 1970-an, diangkat sebagai Ketua Dewan Pembina GRIB Jaya. Posisi ini memberinya peran strategis dalam mengarahkan organisasi, meskipun ia tidak terlibat dalam operasional harian yang dikelola DPP.
Peresmian Kantor DPP GRIB Jaya 2012
Pada Mei 2012, Prabowo Subianto meresmikan kantor DPP GRIB Jaya di Jakarta Barat, sebuah acara yang menjadi tonggak penting bagi organisasi ini. Peresmian ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga simbol penguatan hubungan antara Prabowo dan basis pendukungnya melalui GRIB Jaya.
- Detail Acara: Acara peresmian dihadiri oleh Hercules sebagai Ketua Umum GRIB Jaya, anggota organisasi, dan tokoh-tokoh terkait. Prabowo, sebagai Ketua Dewan Pembina, memberikan sambutan yang menegaskan dukungannya terhadap visi GRIB Jaya. Kantor DPP di Jakarta Barat menjadi pusDiscussion of strategic coordination for GRIB Jaya’s political activities, particularly in mobilizing grassroots support for Prabowo’s presidential campaigns.
- Makna Politik: Kehadiran Prabowo dalam acara ini memperkuat persepsi bahwa GRIB Jaya adalah alat politik untuk memperluas pengaruh Gerindra. Kantor DPP berfungsi sebagai markas untuk mengoordinasikan kampanye, merekrut anggota, dan menjalin jaringan dengan kelompok-kelompok lokal. Pada 2012, Prabowo sedang mempersiapkan diri untuk Pilpres 2014, dan GRIB Jaya menjadi salah satu elemen kunci dalam strateginya.
- Dampak Publik: Peresmian ini menarik perhatian media dan memicu diskusi tentang hubungan Prabowo dengan Hercules, yang dikenal karena masa lalunya sebagai penguasa preman Tanah Abang. Meskipun GRIB Jaya mengklaim sebagai ormas sosial, asosiasi dengan Hercules memunculkan tuduhan bahwa organisasi ini terkait dengan premanisme.
Peran Prabowo sebagai Ketua Dewan Pembina
Sebagai Ketua Dewan Pembina, Prabowo memiliki peran simbolis dan strategis dalam GRIB Jaya. Ia tidak terlibat dalam pengelolaan harian, yang menjadi tanggung jawab DPP di bawah Hercules, tetapi memberikan arahan umum dan legitimasi politik.
- Legitimasi Simbolis: Kehadiran Prabowo sebagai Ketua Dewan Pembina meningkatkan kredibilitas GRIB Jaya di mata anggota dan publik. Nama besar Prabowo, yang saat itu dikenal sebagai tokoh militer dan politikus berpengaruh, membantu GRIB Jaya menarik anggota baru, termasuk mereka yang loyal kepada Gerindra.
- Dukungan Politik: GRIB Jaya memainkan peran aktif dalam mengkampanyekan Prabowo pada Pilpres 2014 dan 2019, serta mengawal pendaftaran Prabowo-Gibran di KPU pada Pilpres 2024. Peresmian kantor DPP pada 2012 menjadi fondasi bagi mobilisasi politik ini.
Pengunduran Diri Prabowo pada 2022
Pada 6 Januari 2022, Prabowo mengeluarkan surat resmi dari DPP Partai Gerindra (nomor 01-0212/B/DPP-GERINDRA/2022) yang menyatakan pengunduran dirinya dari kepengurusan GRIB Jaya. Surat ini, yang ditandatangani langsung oleh Prabowo, menyebutkan bahwa ia “tidak terlibat dalam segala kegiatan yang dilakukan oleh GRIB/GRIB Jaya dari tingkat pusat hingga daerah.”
- Alasan Pengunduran Diri: Meskipun surat tidak menyebutkan alasan spesifik, pengunduran diri ini diyakini sebagai langkah untuk menjaga jarak formal dari GRIB Jaya menjelang Pilpres 2024. Sebagai Menteri Pertahanan (2019–2024) dan kandidat presiden, Prabowo kemungkinan ingin menghindari kontroversi terkait asosiasi dengan Hercules dan tuduhan premanisme yang sering dilontarkan terhadap GRIB Jaya.
- Konfirmasi Gerindra: Politikus Gerindra, Martin Hutabarat, mengonfirmasi bahwa Prabowo telah mundur sejak 2022, menegaskan bahwa keputusan ini diambil sebelum ia dilantik sebagai presiden pada Oktober 2024. Surat pengunduran diri diperkuat oleh materai, menunjukkan keseriusan langkah tersebut.
Kontroversi Pasca-Pengunduran Diri
Pengunduran diri Prabowo tidak sepenuhnya meredam kontroversi. Pada awal 2025, spanduk-spanduk GRIB Jaya yang masih menampilkan Prabowo sebagai Ketua Dewan Pembina beredar di media sosial, memicu spekulasi bahwa ia tetap terlibat dengan organisasi tersebut.
- Bantahan GRIB Jaya: Kabid Humas dan Publikasi DPP GRIB Jaya, Marcel Gual, membantah bahwa Prabowo telah mundur dari posisi Ketua Dewan Pembina. Ia menyebut surat pengunduran diri sebagai “hoaks” dan menegaskan bahwa Prabowo tetap menjabat karena Dewan Pembina adalah entitas terpisah dari kepengurusan DPP. Marcel juga menjelaskan bahwa Prabowo tidak pernah berada dalam kepengurusan harian, sehingga surat tersebut tidak relevan dengan posisinya.
- Kontradiksi: Pernyataan GRIB Jaya bertentangan dengan surat resmi Gerindra, yang secara eksplisit menyebutkan pengunduran diri dari kepengurusan GRIB Jaya secara keseluruhan. Ketidaksesuaian ini memicu kebingungan publik dan tuduhan bahwa GRIB Jaya memanfaatkan nama Prabowo untuk mempertahankan legitimasi.
- Sentimen Publik: Di platform X, opini terbagi. Beberapa pengguna, seperti @DarsAlexandra1, menegaskan bahwa Prabowo telah mundur sejak 2022 dan menuduh GRIB Jaya menyalahgunakan namanya. Yang lain, seperti @Anak__Ogi, masih menganggap GRIB Jaya sebagai ormas yang terkait erat dengan Prabowo, mencerminkan persepsi yang beragam.
Analisis: Makna dan Dampak Peresmian 2012
Peresmian kantor DPP GRIB Jaya pada 2012 oleh Prabowo adalah momen yang memperkuat aliansi politik antara dirinya dan Hercules, tetapi juga menjadi sumber kontroversi jangka panjang. Acara ini menegaskan komitmen GRIB Jaya untuk mendukung Prabowo, yang terbukti dalam kampanye Pilpres 2014, 2019, dan 2024. Namun, pengunduran diri Prabowo pada 2022 menunjukkan upaya untuk memisahkan diri secara formal dari organisasi ini, kemungkinan besar untuk melindungi reputasinya sebagai presiden terpilih.
Kontroversi seputar spanduk 2025 dan bantahan GRIB Jaya mengindikasikan kurangnya transparansi dalam struktur organisasi mereka. Klaim bahwa Prabowo tetap sebagai Ketua Dewan Pembina, meskipun bertentangan dengan surat resmi, menimbulkan pertanyaan tentang apakah GRIB Jaya sengaja memanfaatkan nama Prabowo untuk mempertahankan pengaruhnya.
Kesimpulan
Peresmian kantor DPP GRIB Jaya pada Mei 2012 oleh Prabowo Subianto adalah peristiwa bersejarah yang menandai puncak keterlibatannya dengan organisasi ini sebagai Ketua Dewan Pembina. Acara ini memperkuat posisi GRIB Jaya sebagai pendukung utama Prabowo dalam politik Indonesia. Namun, pengunduran dirinya pada Januari 2022, yang dikonfirmasi oleh surat resmi Gerindra, menunjukkan upaya untuk menjaga jarak dari GRIB Jaya, kemungkinan untuk menghindari kontroversi terkait Hercules dan tuduhan premanisme. Meskipun GRIB Jaya bersikeras bahwa Prabowo tetap menjabat, kontradiksi ini mencerminkan dinamika kompleks antara loyalitas politik dan strategi reputasi. Peristiwa ini tetap menjadi bagian penting dari narasi hubungan Prabowo dengan GRIB Jaya, yang terus memicu diskusi di era pemerintahan Prabowo-Gibran.
