Hubungan Hercules GRIB dan Prabowo Subianto

LOGIC.co.id - Hubungan antara Hercules Rosario de Marshal, pendiri Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, dan Presiden Prabowo Subianto telah menjadi topik hangat di Indonesia. Dari medan perang Timor Timur hingga panggung politik nasional, ikatan mereka penuh dengan drama, loyalitas, kontroversi, dan bagaimana seorang mantan preman menjadi pendukung setia presiden, apa makna hubungan ini di era pemerintahan Prabowo-Gibran.

Awal Mula: Pertemuan di Medan Konflik Timor Timur

Kisah ini dimulai pada akhir 1970-an di Timor Timur, saat Indonesia melakukan operasi militer untuk mengintegrasikan wilayah tersebut. Hercules, seorang pemuda kelahiran Ainaro, Timor Portugis, bekerja sebagai Tenaga Bantuan Operasi (TBO) untuk TNI. Ia bertemu Prabowo Subianto, yang saat itu berpangkat kapten di Kopassus. Momen krusial terjadi ketika Hercules mengalami kecelakaan helikopter yang merenggut tangan kanan dan mata kanannya. Prabowo memastikan Hercules dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, sebuah tindakan yang membuat Hercules merasa "berutang nyawa."

- Advertisement -

Hercules pernah berkata, "Prabowo adalah satu-satunya orang yang bisa menyerang saya tanpa saya mengangkat tangan untuk membalasnya." Pernyataan ini mencerminkan ikatan emosional yang terjalin, dengan Hercules menganggap Prabowo sebagai mentor atau bahkan figur ayah.

Dari Tanah Abang ke Dunia Premanisme

Setelah pindah ke Jakarta pada akhir 1980-an, Hercules membangun kekuasaan di Tanah Abang, menjadi penguasa dunia premanisme pada 1990-an. Diduga, ia direkrut oleh kalangan militer, termasuk melalui strategi yang dikaitkan dengan Prabowo, untuk memperkuat pengaruh Indonesia di Timor Timur. Geng Hercules mendapat perlindungan militer, namun setelah menolak terlibat dalam demonstrasi pro-integrasi pada akhir 1990-an, ia kehilangan dukungan dan digulingkan oleh geng lain.

Meskipun hubungan dengan Prabowo tidak secara langsung terkait dengan aktivitas kriminal Hercules, ikatan pribadi mereka tetap kuat. Pengalaman ini menjadi fondasi bagi langkah Hercules selanjutnya: mendirikan GRIB.

- Advertisement -

GRIB Jaya: Mesin Politik untuk Prabowo

Pada 2011, Hercules mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB), yang kemudian menjadi GRIB Jaya pada 2019. Organisasi ini memiliki misi jelas: mendukung ambisi politik Prabowo Subianto untuk menjadi presiden. GRIB Jaya, yang mengklaim memiliki 1,4 juta anggota pada 2023, menjadi sayap operasional Partai Gerindra, meskipun secara formal terpisah untuk menghindari skandal politik.

  • Dukungan Pemilu: Hercules dan GRIB Jaya aktif mengkampanyekan Prabowo pada Pilpres 2014, 2019, dan 2024. Pada Pilpres 2024, mereka bahkan mengawal pendaftaran Prabowo-Gibran di KPU.
  • Peran Prabowo: Prabowo pernah menjadi Ketua Dewan Pembina GRIB dan meresmikan kantor DPP GRIB pada 2012. Namun, pada 2022, ia secara resmi mengundurkan diri, menegaskan tidak terlibat dalam kegiatan organisasi tersebut.

Hercules menegaskan bahwa dukungan untuk Prabowo adalah "harga mati." Ia bahkan mengancam memecat anggota GRIB yang mendukung kandidat lain, menunjukkan loyalitas yang tak tergoyahkan.

Kontroversi: Premanisme dan Tuduhan "Beking"

Hubungan Hercules dan Prabowo tidak lepas dari kontroversi. Latar belakang Hercules sebagai mantan preman dan bentrokan GRIB Jaya dengan organisasi lain, seperti Pemuda Pancasila di Blora dan Bandung pada Januari 2025, memicu persepsi bahwa GRIB masih terkait dengan premanisme. Beberapa pihak, termasuk mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, mempertanyakan klaim bahwa Prabowo mendukung Hercules atau GRIB.

- Advertisement -

Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia, Ricardi S. Adnan, mencatat bahwa kehadiran Hercules cenderung meningkat saat Prabowo berkuasa, seperti ketika ia menjadi Menteri Pertahanan (2019–2024) dan Presiden (2024–sekarang). Ini memunculkan spekulasi bahwa Hercules memanfaatkan nama Prabowo sebagai "beking," meskipun GRIB Jaya membantah tuduhan ini.

Di media sosial, terutama platform X, sentimen bercampur. Ada yang menyebut GRIB sebagai "ormas kesayangan Prabowo," sementara yang lain mempertanyakan dampak organisasi ini. Namun, informasi dari X bersifat spekulatif dan tidak dapat dijadikan bukti pasti.

Era Pemerintahan Prabowo-Gibran: Apa Selanjutnya?

Setelah kemenangan Prabowo pada Pilpres 2024, GRIB Jaya semakin memperluas pengaruhnya. Hercules menyatakan bahwa organisasinya akan mendukung program pemerintahan, seperti Asta Cita, dan menjalin sinergi dengan TNI dan Polri. Ia juga berencana mengundang Prabowo ke acara milad GRIB Jaya pada April 2025, meskipun memahami kesibukan presiden.

Meskipun Prabowo telah menjaga jarak formal dengan GRIB Jaya, hubungan pribadi dengan Hercules tampaknya tetap terjaga. Ini memunculkan pertanyaan: apakah GRIB Jaya akan menjadi kekuatan politik yang lebih besar di bawah pemerintahan Prabowo, atau justru memicu lebih banyak kontroversi?

Analisis: Loyalitas atau Kepentingan Politik?

Hubungan Hercules dan Prabowo adalah perpaduan unik antara loyalitas pribadi dan kepentingan politik. Bagi Hercules, dukungan untuk Prabowo adalah wujud rasa terima kasih atas bantuan di masa lalu. Bagi Prabowo, GRIB Jaya memberikan dukungan akar rumput yang berharga, meskipun ia harus menjaga jarak untuk menghindari dampak negatif.

Namun, kontroversi seputar GRIB Jaya dan latar belakang Hercules menunjukkan tantangan dalam hubungan ini. Apakah Prabowo benar-benar mendukung Hercules, atau apakah Hercules hanya memanfaatkan nama besar Prabowo untuk legitimasi? Hanya waktu yang akan menjawab.

Kesimpulan

Kisah Hercules dan Prabowo adalah cerminan dinamika kekuasaan di Indonesia, dari medan perang hingga panggung politik. Dari utang nyawa di Timor Timur hingga kampanye Pilpres 2024, hubungan mereka menunjukkan bagaimana loyalitas pribadi dapat membentuk aliansi politik. Namun, dengan kontroversi yang terus mengiringi GRIB Jaya, hubungan ini tetap menjadi topik yang menarik untuk diikuti di era pemerintahan Prabowo-Gibran.

Baca Juga
TERKAIT
TERKINI