Driver Grab di Bandung Gelar Aksi Protes: “Penghasilan Kami Terus Menurun”

Bandung, LOGIC.co.id - Gelombang protes terhadap program GrabBike Hemat kini merambah ke Kota Bandung. Puluhan mitra pengemudi ojek online (ojol) Grab berkumpul di depan kantor Grab, Jalan Jenderal Sudirman, untuk menyampaikan kekecewaan mereka atas kebijakan baru yang dinilai merugikan pendapatan harian mereka.

Aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap program Akses Hemat, yang menurut para driver justru memperbesar beban finansial mereka di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat.

- Advertisement -

Protes Terhadap Skema Langganan GrabBike Hemat

Keluhan utama para pengemudi berpusat pada kewajiban membayar biaya langganan agar tetap bisa menerima order dari layanan GrabBike Hemat. Menurut mereka, skema ini menambah tekanan, terutama karena pengemudi juga harus menanggung biaya operasional harian seperti bahan bakar, perawatan kendaraan, dan kebutuhan pribadi lainnya.

“Kalau enggak ikut program, akun jadi sepi orderan. Karena konsumen di Indonesia cenderung memilih tarif yang paling murah,” ujar Arief, salah satu pengemudi Grab di Bandung, Selasa (22/4/2025).

Arief menilai skema langganan dan potongan yang diterapkan Grab lebih memberatkan ketimbang membantu. Ia juga menyebut bahwa loyalitas konsumen kini kalah oleh pertimbangan harga murah.

- Advertisement -

“Kalau enggak daftar GrabBike Hemat, kemungkinan besar akun jadi anyep. Konsumen berhak memilih layanan yang lebih terjangkau, dan itu sangat memengaruhi kami sebagai driver,” lanjutnya.

Pendapatan Semakin Menipis

Arief juga mengungkapkan bahwa sejak pandemi COVID-19, pendapatannya belum kembali normal. Kini, dengan hadirnya dua pemain baru di industri ojek online yang menawarkan tarif lebih rendah, persaingan semakin ketat.

“Aplikator pun mulai kelimpungan, makanya ada program GrabBike Hemat. Tapi yang kena imbas langsungnya ya kami, para driver,” katanya.

- Advertisement -

Menurut data yang diungkap Ketua Presidium Komunitas Ojol Nasional (KON), Andi Kristiyanto, program Grab Hemat memberlakukan potongan berdasarkan jumlah perjalanan harian:

  • 1–2 trip: potongan Rp3.000
  • 3–4 trip: Rp8.500
  • 5–6 trip: Rp13.600
  • 7–9 trip: Rp18.000
  • 10 trip ke atas: potongan hingga Rp20.000

Semua potongan ini diterapkan di luar potongan reguler 15 persen + 5 persen yang telah ditetapkan dalam regulasi Kemenhub (KP 1001 Tahun 2022) untuk biaya penggunaan aplikasi dan tunjangan kesejahteraan mitra.

Aksi Nasional: Bentuk Perlawanan terhadap Sistem Eksploitatif?

KON menilai program GrabBike Hemat sebagai bentuk eksploitasi dan ketidakadilan dalam sistem kerja digital saat ini. Menurut mereka, protes yang terjadi di berbagai kota, termasuk Bandung dan sebelumnya Cirebon, mencerminkan keresahan nasional terhadap sistem yang lebih menguntungkan aplikator asing daripada mitra lokal.

“Program ini katanya diluncurkan agar Grab tetap kompetitif, tapi kenyataannya justru memberatkan pengemudi. Kami meminta agar kantor Grab di Bandung menyampaikan suara kami ke manajemen pusat,” tegas Arief.

Ia juga menegaskan bahwa tuntutan mereka tidak berlebihan. Para mitra hanya ingin evaluasi dan peninjauan ulang terhadap program GrabBike Hemat yang selama ini dinilai tidak berpihak pada kesejahteraan driver.

Solidaritas Driver: Dari Cirebon hingga Bandung

Aksi protes ini merupakan bagian dari solidaritas nasional para mitra Grab. Di Cirebon, aksi serupa sempat mendapat perhatian dari Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer, yang menyatakan dukungannya terhadap tuntutan driver Grab.

Menanggapi unjuk rasa di Bandung, pihak Grab menyatakan akan menampung seluruh aspirasi yang disampaikan mitra dan menyampaikannya kepada manajemen pusat untuk ditindaklanjuti.

Baca Juga
TERKAIT
TERKINI