Gothenburg, LOGIC.co.id – Perusahaan otomotif asal Swedia, Volvo Cars, mengumumkan akan memutus hubungan kerja terhadap 3.000 karyawannya secara global. Langkah ini mencakup pemangkasan 15 persen staf kantor, termasuk pekerja kerah putih di berbagai divisi, sebagai bagian dari upaya restrukturisasi besar-besaran demi meningkatkan efisiensi.
Informasi ini diumumkan pada Senin, 26 Mei 2025. Karyawan kerah putih merujuk pada mereka yang bekerja di bidang administratif, manajerial, hingga profesional seperti riset dan pengembangan (R&D), komunikasi, dan sumber daya manusia (SDM).
“Pengurangan ini terjadi di hampir semua bagian dan jumlahnya cukup besar,” ujar Presiden dan CEO Volvo Cars, Håkan Samuelsson kepada Reuters, Selasa (27/5/2025).
15 Persen Staf Kantor Akan Di-PHK
Dilansir dari APNews, PHK ini akan berdampak pada sekitar 15 persen staf kantor. Dari total pemutusan hubungan kerja, sekitar 1.200 posisi akan dihilangkan di kantor pusat Swedia.
Selain itu, 1.000 posisi yang saat ini diisi oleh konsultan juga akan dihentikan. Sisa pemangkasan karyawan akan dilakukan di cabang Volvo di negara lain.
Saat ini, Volvo Cars berbasis di Gothenburg, Swedia, dan memiliki fasilitas produksi di Belgia, Carolina Selatan (Amerika Serikat), serta Tiongkok. Perusahaan mempekerjakan sekitar 42.600 karyawan tetap secara global.
Kabar PHK besar-besaran ini menjadi sorotan publik, terutama di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global dan tekanan industri otomotif dunia.
Upaya Efisiensi Demi Penghematan Rp 30,9 Triliun
CEO Håkan Samuelsson menyatakan bahwa pemangkasan karyawan merupakan bagian dari strategi efisiensi anggaran yang telah diluncurkan sejak April 2025.
“Tujuan utama dari langkah ini adalah meningkatkan efisiensi struktural. Dampaknya bisa berbeda-beda tergantung area, tapi tidak ada bagian yang luput,” jelas Fredrik Hansson, CFO baru Volvo Cars.
Perusahaan menargetkan penghematan sekitar 18 miliar krona Swedia atau setara Rp 30,9 triliun (kurs USD 1 = Rp 16.311). Menurut Volvo, langkah ini juga bertujuan untuk memperkuat organisasi, memangkas biaya operasional, serta membuka peluang bagi karyawan untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar.
Tertekan Tarif Impor AS, Volvo Restrukturisasi Bisnis
Langkah PHK ini juga terjadi di tengah upaya Volvo Cars mengembalikan harga sahamnya yang sempat terpuruk. Perusahaan juga terkena dampak dari kebijakan tarif impor kendaraan oleh mantan Presiden AS, Donald Trump.
Karena sebagian besar produksi Volvo Cars berada di Eropa dan Tiongkok, perusahaan menjadi lebih rentan terhadap kebijakan tarif baru dibandingkan kompetitor lain yang berbasis di Amerika.
Volvo juga menyebut bahwa mereka tidak lagi mampu mengekspor mobil dengan harga termurah ke pasar AS akibat kenaikan tarif tersebut. Sebagai respons, Volvo kini fokus merestrukturisasi bisnis dan mendorong permintaan mobil dengan memangkas biaya produksi.
Restrukturisasi ini ditargetkan rampung pada musim gugur 2025.
Analis: PHK Ini Langkah Positif
Menurut analis dari Handelsbanken, Hampus Engellau, skala PHK yang diumumkan sesuai dengan ekspektasi pasar. Ia menilai langkah efisiensi ini sebagai keputusan yang positif bagi keberlanjutan perusahaan.
Dengan adanya tekanan ekonomi, kebijakan dagang yang dinamis, serta pergeseran ke kendaraan listrik, keputusan strategis seperti ini dinilai penting agar perusahaan tetap kompetitif di pasar global yang terus berubah.
