Islamabad, New Delhi, LOGIC.co.id - Ketegangan antara India dan Pakistan kembali meningkat setelah kedua negara bersenjata nuklir itu sama-sama memperkuat kemampuan militer mereka sejak bentrokan besar terakhir pada 2019. Para pakar militer memperingatkan bahwa peningkatan ini dapat memperbesar risiko eskalasi, bahkan dalam konflik terbatas.
Pakistan menuduh India berencana melakukan serangan militer sebagai balasan atas serangan terhadap turis domestik di Kashmir India bulan lalu. Perdana Menteri India, Narendra Modi, bersumpah akan menghukum para pelaku di balik serangan tersebut “melampaui imajinasi mereka”.
Sementara itu, Pakistan membantah keterlibatan dan memperingatkan akan membalas jika diserang.
Pada 2019, India melakukan serangan udara ke wilayah Pakistan setelah serangan bom terhadap konvoi militer di Kashmir. Pakistan membalas dengan serangan udara dan menembak jatuh sebuah pesawat India dalam konflik yang berlangsung selama dua hari.
Potensi Konflik dengan Risiko Tinggi
Kashmir tetap menjadi titik panas paling berbahaya di dunia. Meskipun penggunaan senjata nuklir dianggap tidak mungkin kecuali dalam situasi ekstrem, para ahli memperingatkan bahwa konflik terbatas pun dapat dengan cepat meningkat ke skala yang lebih besar.
“Pengambil keputusan di kedua negara kini memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi dibandingkan sebelum 2019,” kata Frank O'Donnell dari Stimson Center. “Namun, tanpa pemahaman yang jelas tentang batas-batas tindakan, eskalasi tidak disengaja bisa terjadi.”
Persenjataan dan Teknologi Baru
Sejak 2019, kedua negara telah mengakuisisi perangkat militer canggih:
- India kini memiliki 36 jet tempur Rafale buatan Prancis, yang dilengkapi dengan rudal udara-ke-udara Meteor. Selain itu, sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia telah memperkuat keamanan wilayahnya.
- Pakistan menerima pesawat tempur J-10 dari China sejak 2022, yang dipersenjatai dengan rudal PL-15. Negara ini juga telah mengakuisisi sistem pertahanan udara HQ-9 dari China.
Anil Golani, mantan perwira Angkatan Udara India, mengatakan, “Ada tekanan publik untuk bertindak, tetapi secara pribadi saya rasa kedua negara tidak menginginkan konflik besar-besaran.”
Peran Teknologi Drone dan Rudal
Alih-alih pertempuran udara konvensional, serangan drone atau rudal jarak pendek dinilai lebih mungkin terjadi karena risiko jatuhnya pilot.
India telah membeli drone Heron Mark 2 dari Israel dan memesan drone Predator dari AS. Sementara Pakistan mengandalkan Bayraktar TB2 dan Akinci dari Turki.
Sabtu lalu, Pakistan menguji coba rudal balistik jarak menengah sejauh 450 km sebagai unjuk kesiapan. India belum memberikan tanggapan, namun memiliki rudal BrahMos dan seri Agni yang mampu menjangkau target antarbenua.
Risiko Intervensi dan Dampak Global
Setiap konflik antara India dan Pakistan tidak hanya berdampak regional, tetapi juga dapat menarik perhatian global—khususnya dari Tiongkok dan Amerika Serikat. Tiongkok merupakan sekutu erat Pakistan dan pemasok utama alutsista, sementara AS kini menjalin hubungan lebih erat dengan India.
Kaiser Tufail, mantan pilot tempur Pakistan, menyatakan bahwa India akan berupaya menunjukkan kekuatan lebih besar kali ini agar dapat menimbulkan efek jera. Namun, hal ini justru bisa memicu risiko yang lebih besar.
"Jika melampaui apa yang terjadi pada 2019, maka akan sangat berbahaya," ujarnya. "Pertempuran antara dua negara bersenjata nuklir adalah skenario yang sangat mengkhawatirkan."
