VATIKAN, LOGIC.co.id – Dunia Katolik tengah berduka atas wafatnya Paus Fransiskus, yang diumumkan oleh Vatikan pada Senin. Kini, perhatian umat Katolik di seluruh dunia mulai tertuju pada para kardinal berjubah merah yang akan menentukan siapa yang akan menjadi Paus berikutnya.
Selama masa kepemimpinannya, Paus Fransiskus dikenal karena pilihannya yang progresif dalam mengangkat kardinal, banyak di antaranya berasal dari luar Eropa. Hal ini memunculkan harapan bahwa penerusnya juga akan datang dari kawasan non-Eropa, serta memiliki pandangan yang serupa dalam mendorong reformasi sosial di dalam Gereja Katolik.
Namun, proses pemilihan Paus baru sangat tertutup dan rahasia. Tak ada yang pasti hingga asap putih mengepul dari cerobong Kapel Sistina – tanda yang dinantikan seluruh dunia bahwa pemimpin baru Gereja Katolik telah terpilih.
Siapa yang Memilih Paus?
Para kardinal adalah pejabat tinggi yang menjadi tangan kanan Paus dalam mengelola berbagai departemen penting di Vatikan maupun keuskupan di seluruh dunia. Ketika seorang Paus wafat atau mengundurkan diri, para kardinal berusia di bawah 80 tahun berhak mengikuti konklaf – pertemuan tertutup yang menentukan Paus baru.
Pemungutan suara dalam konklaf ini mencerminkan apakah para kardinal yang sebagian besar ditunjuk oleh Fransiskus akan melanjutkan arah progresifnya, atau justru memilih untuk kembali pada nilai-nilai konservatif.
Dalam beberapa hari ke depan, para kardinal akan mulai berdatangan ke Roma dan menetapkan tanggal dimulainya konklaf.
Jejak Pengangkatan Kardinal oleh Fransiskus
Hanya Paus yang memiliki wewenang untuk mengangkat kardinal, dan pilihannya berperan penting dalam membentuk masa depan Gereja. Hingga 21 April, terdapat 252 kardinal, dengan 135 di antaranya berusia di bawah 80 tahun dan berhak memilih. Dari jumlah itu, 108 merupakan hasil pengangkatan Paus Fransiskus, 22 oleh pendahulunya Benediktus XVI, dan 5 oleh Yohanes Paulus II.
Kardinal diangkat melalui upacara khusus yang disebut konsistori, di mana mereka menerima cincin, biretta merah (topi persegi khas kardinal), serta mengucapkan sumpah kesetiaan kepada Paus – bahkan jika harus mengorbankan nyawa demi iman.
Selama masa kepemimpinannya, Paus Fransiskus menggelar 10 konsistori, dan banyak dari kardinal yang diangkat berasal dari negara-negara berkembang, termasuk Rwanda, Cape Verde, Tonga, Myanmar, Mongolia, dan Sudan Selatan. Ia bahkan menunjuk kardinal dari negara seperti Swedia, yang jumlah umat Katoliknya sangat kecil.
Menantang Tradisi Eropa-Sentris
Sejak abad pertengahan, mayoritas kardinal berasal dari Italia, kecuali pada masa singkat saat kepausan dipindahkan ke Avignon, Prancis (1309–1377). Upaya internasionalisasi baru dimulai secara serius oleh Paus Paulus VI dan dipercepat oleh Yohanes Paulus II – Paus asal Polandia dan non-Italia pertama dalam 455 tahun.
Meski Eropa masih mendominasi jumlah kardinal pemilih (sekitar 39%), angka ini menurun dari 52% saat Fransiskus terpilih pada 2013. Kini, Asia dan Oseania menempati posisi kedua dengan proporsi sekitar 20%.
Di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Paus Fransiskus tampak sengaja melewatkan keuskupan besar seperti Los Angeles dan San Francisco, yang dikenal memiliki uskup agung berpandangan konservatif. Sebaliknya, ia memilih Robert McElroy – uskup yang dikenal sebagai pendukung kuat agenda pastoral Fransiskus, seperti perlindungan lingkungan dan pendekatan terbuka terhadap umat Katolik LGBTQ.
Warisan Seorang Paus
Jumlah kardinal yang diangkat oleh seorang Paus sangat memengaruhi arah Gereja setelah masa jabatannya berakhir. Namun, bukan berarti penerusnya akan selalu memiliki pandangan yang serupa. Dalam beberapa kasus, para kardinal bisa memilih figur yang justru sangat berbeda – tergantung pada dinamika internal Gereja dan konteks zaman saat pemilihan berlangsung.
Sebagai contoh, Paus Benediktus XVI terpilih sebagian karena dianggap mampu melanjutkan warisan Yohanes Paulus II. Namun setelah pengunduran dirinya akibat skandal "Vatileaks" yang menyingkap kekacauan internal di Vatikan, banyak kardinal merasa bahwa Gereja membutuhkan sosok luar – dan mereka memilih Jorge Mario Bergoglio dari Argentina, yang kemudian dikenal sebagai Paus Fransiskus.
Meskipun kardinal yang telah berusia 80 tahun tidak dapat mengikuti konklaf, mereka tetap memainkan peran penting. Mereka diperbolehkan mengikuti pertemuan awal yang disebut Kongregasi Umum, di mana dibentuk gambaran tentang karakter dan kualitas yang diharapkan dari Paus berikutnya.
