Vatikan, LOGIC.co.id - Kardinal asal Filipina, Luis Antonio Tagle, masuk dalam daftar kuat kandidat pengganti Paus Fransiskus. Dijuluki sebagai "Franciscus dari Asia" karena senyumnya yang menular, gaya komunikasinya yang hangat, serta kedekatannya dengan umat, Tagle disebut sebagai sosok yang paling mungkin melanjutkan arah progresif Gereja Katolik saat ini.
Sejumlah pengamat menyebut bahwa jika para kardinal yang akan masuk dalam konklaf rahasia pada Rabu mendatang menginginkan kesinambungan dari warisan Paus Fransiskus, maka Tagle bisa menjadi pilihan utama.
Pemilihannya juga akan menjadi sinyal kuat bahwa Gereja Katolik, yang memiliki 1,4 miliar pengikut di seluruh dunia, siap bergerak maju dengan visi keterbukaan terhadap dunia modern, bukan mundur ke arah konservatif.
Kedekatan dengan Rakyat dan Pengalaman Pastoral
Tagle, mantan Uskup Agung Manila, telah memimpin Dicastery for Evangelization sejak 2020 — lembaga misi utama Vatikan yang mengatur hubungan dengan gereja-gereja di negara-negara berkembang. Sebelumnya, ia menjabat sebagai uskup di Keuskupan Imus dan memiliki pengalaman luas memimpin keuskupan di negara mayoritas Katolik terbesar di Asia.
Gaya hidupnya yang sederhana dan pribadinya yang hangat membuatnya sangat disukai oleh banyak umat, khususnya kaum muda. Bahkan, saat kunjungan Paus Fransiskus ke Filipina pada 2014, Tagle menjadi tuan rumah dalam acara yang mencetak rekor sebagai pertemuan Paus terbesar sepanjang sejarah, dengan misa yang dihadiri hingga 7 juta orang.
Kemampuan Teologis dan Isu Manajerial
Berbeda dengan Fransiskus, Tagle juga dikenal sebagai seorang teolog terkemuka. Ia pernah menjadi anggota International Theological Commission di bawah bimbingan Kardinal Joseph Ratzinger (yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI). Kapasitas akademiknya dianggap sebagai daya tarik tambahan bagi para kardinal moderat yang mendambakan figur intelektual di tengah Gereja yang terus berkembang.
Namun, ada catatan minor dalam rekam jejaknya. Pada 2022, Paus Fransiskus mencopot seluruh jajaran pimpinan Caritas Internationalis — termasuk Tagle sebagai ketua seremonial — menyusul dugaan perilaku intimidatif oleh manajemen. Meski demikian, Tagle tidak terlibat langsung dalam manajemen harian dan justru dihormati oleh banyak staf organisasi kemanusiaan itu.
Kritik Politik dan Dukungan Dalam Negeri
Pindahnya Tagle ke Roma sempat menuai kritik dari mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte, yang menuduh Tagle terlibat terlalu jauh dalam isu politik dalam negeri. Namun, Konferensi Waligereja Filipina dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Kardinal Pablo Virgilio David menyebut klaim Duterte sebagai "tidak masuk akal."
Simbol Harapan dari Asia
Jika terpilih, Tagle akan menjadi Paus pertama dari Asia modern — suatu simbol penting mengingat kawasan Asia kini menjadi wilayah pertumbuhan paling cepat bagi umat Katolik. Di usianya yang ke-67, Tagle dianggap masih cukup muda untuk standar Vatikan dan dinilai mampu mengemban masa pontifikat yang stabil, namun tidak terlalu panjang.
Rekan dan mantan muridnya, Romo Emmanuel Alfonso, menyebut Tagle sebagai pribadi yang mencerminkan semangat Paus Fransiskus. "Ia memiliki cinta yang mendalam terhadap kaum miskin dan sangat mudah didekati. Ia adalah cerminan dari Paus Fransiskus dalam banyak hal," kata Alfonso.
