Jakarta, LOGIC.co.id - Pemerintah mulai mendorong masyarakat untuk beralih dari kartu SIM fisik ke eSIM sebagai langkah melawan maraknya kejahatan digital seperti phising, scam, dan penyalahgunaan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menyatakan bahwa eSIM merupakan teknologi baru yang dinilai lebih aman dan mendukung transformasi digital nasional.
“Teknologi eSIM membuka peluang integrasi yang lebih luas untuk perangkat wearable, machine-to-machine (M2M), dan Internet of Things (IoT), sekaligus meningkatkan efisiensi industri telekomunikasi,” ujar Meutya dalam keterangan resmi, Jumat (11/4/2025).
Pemerintah pun memberikan masa transisi dua tahun bagi penyedia layanan seluler untuk sepenuhnya menerapkan eSIM, dengan tetap mengedepankan perlindungan data pribadi dan kenyamanan pengguna.
Benarkah eSIM Lebih Aman dari SIM Fisik?
Menurut pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, secara teknis eSIM memang lebih unggul dari sisi keamanan dibandingkan kartu SIM fisik. Namun, keunggulan itu hanya efektif jika didukung kedisiplinan operator dan pengguna dalam menjalankan prosedur keamanan.
“Pengamanan eSIM memang lebih kuat, tapi harus disertai penerapan Know Your Customer (KYC) yang ketat, seperti pada sistem perbankan,” jelas Alfons, Sabtu (12/4/2025).
Ia menekankan bahwa sistem validasi data calon pengguna eSIM harus sesuai dengan data identitas asli. Tanpa verifikasi yang kuat, sistem tetap rawan disalahgunakan.
Alfons juga mendorong agar penyedia layanan mengamankan data eSIM dengan enkripsi saat proses pengiriman dan penyimpanan. Langkah ini penting sebagai antisipasi dari risiko penyadapan atau kebocoran data.
Kaitan dengan IMEI dan Keamanan Tambahan
Agar lebih aman, Alfons menyarankan agar aktivasi eSIM diikatkan dengan satu perangkat berdasarkan nomor IMEI. Dengan begitu, eSIM tidak bisa dipindahkan ke perangkat lain sembarangan.
“Tambahkan fitur pengamanan seperti biometrik atau otentikasi dua faktor (TFA), agar pengguna memiliki kontrol lebih atas keamanan datanya,” tambahnya.
Tantangan di Lapangan: HP Murah Belum Mendukung eSIM
Meskipun potensinya menjanjikan, implementasi eSIM tetap menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah fakta bahwa mayoritas kejahatan digital terjadi pada kartu prabayar, yang umumnya digunakan pada perangkat low-end yang belum mendukung eSIM.
Sementara itu, perangkat mid-range hingga high-end yang mendukung eSIM justru lebih jarang dipakai untuk aktivitas penipuan.
“Jenis penipuan atau fraud biasanya menyasar pengguna kartu prabayar. Kalau pascabayar, biasanya lebih jarang terlibat karena registrasinya lebih ketat,” kata Alfons.
Solusi: eSIM untuk Semua Kalangan
Agar eSIM benar-benar efektif sebagai solusi keamanan digital, Alfons menegaskan perlunya koordinasi lintas lembaga, termasuk dengan regulator perangkat HP. Pemerintah juga didorong untuk memperluas implementasi eSIM ke ponsel low-end dan mengutamakan kartu prabayar sebagai target utama kebijakan ini.
“Jika prosedur aktivasi dan pemeliharaan eSIM dilakukan dengan disiplin, maka upaya penyalahgunaan akan lebih mudah diidentifikasi dan ditindak,” pungkasnya.
