Upah Cuma Rp 2.000 per Paket, Kurir Harus Ganti Rugi Rp 2 Juta jika Barang Hilang

Jakarta, LOGIC.co.id – Pudin (22), seorang kurir paket yang sehari-hari beroperasi di wilayah Kramat Jati, Jakarta Timur, membagikan kisah pilunya sebagai pekerja lapangan dalam industri ekspedisi. Meski mengantarkan puluhan hingga ratusan paket setiap hari, ia hanya mendapatkan bayaran Rp 2.000 untuk tiap paket yang berhasil dikirimkan.

Namun ironisnya, jika ada barang yang hilang, Pudin harus mengganti rugi dengan nilai yang jauh melebihi pendapatannya.

- Advertisement -

“Pernah saya harus ganti Rp 150 ribu untuk barang kecil. Tapi teman saya ada yang sampai ganti Rp 2 juta karena kehilangan handphone,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (22/5/2025).

Kurir Tanpa Gaji Pokok, Risiko Ditanggung Sendiri

Pudin mengungkapkan bahwa dirinya bukanlah karyawan tetap, melainkan mitra dari perusahaan ekspedisi. Itu artinya, tidak ada gaji pokok atau jaminan pendapatan bulanan.

“Sistemnya dihitung per paket, satu paket Rp 2.000. Kalau sepi kiriman, ya penghasilan ikut sepi. Belum lagi kalau ada yang hilang, kita yang tanggung,” jelasnya.

- Advertisement -

Ia mengatakan bahwa kehilangan paket adalah risiko kerja yang sangat mungkin terjadi, apalagi ketika ia membawa banyak paket sekaligus di atas motor. Dalam kondisi padat dan cepat, tak jarang konsentrasi terganggu.

“Kadang bisa hilang di jalan, karena bawaan banyak di motor,” ucapnya.

Dari Ojek Online ke Kurir Paket

Sebelum menjadi kurir, Pudin pernah bekerja sebagai pengemudi ojek online. Namun ia memutuskan beralih profesi demi keluarga.

- Advertisement -

“Saya punya anak kecil. Kalau ojol, nunggu orderan bisa lama dan jaraknya jauh. Jadi kurir lebih pasti jam kerjanya dan dekat dari rumah,” katanya.

Meski demikian, pekerjaan sebagai kurir tetap penuh tantangan. Selain beban kerja yang berat, minimnya perlindungan membuat para kurir seperti Pudin harus menanggung sendiri kerugian yang tidak mereka sengaja.

Perlindungan untuk Kurir Masih Minim

Kisah Pudin menggambarkan realitas yang dihadapi banyak kurir di Indonesia. Sistem kemitraan yang tidak memberikan perlindungan sosial, asuransi kerja, dan penghasilan tetap membuat mereka sangat rentan secara ekonomi.

Meski industri logistik terus berkembang pesat seiring dengan tingginya belanja online, nasib para kurir sering kali terlupakan.

Baca Juga
TERKAIT
TERKINI