Jakarta, LOGIC.co.id - Kondisi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di kawasan Cawang Kompor, Jalan Dewi Sartika, Kramat Jati, Jakarta Timur, kini memprihatinkan. Jembatan yang seharusnya menjadi akses aman bagi pejalan kaki ini justru membahayakan keselamatan publik.
Anak Tangga Retak dan Besi Railing Hilang
Berdasarkan pantauan langsung pada Sabtu (3/5/2025), anak tangga JPO terlihat aus dan retak, dengan permukaan tidak rata yang berisiko membuat pejalan kaki terpeleset. Tumpukan sampah plastik juga terlihat di beberapa sudut, menambah kesan kumuh pada jembatan tersebut.
Selain itu, cat pembatas berwarna kuning hampir sepenuhnya pudar, menyisakan warna kusam yang bercampur dengan debu. Pegangan tangan yang awalnya berwarna putih kini dipenuhi karat di sejumlah titik. Bahkan, beberapa besi pada bagian pagar atau railing hilang, menjadikan jembatan ini rawan kecelakaan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Coretan Vandalisme dan Spanduk Ilegal Menambah Kumuh
Kerusakan fisik bukan satu-satunya masalah. JPO Cawang Kompor juga dipenuhi coretan vandalisme, sementara bagian railing yang kosong dimanfaatkan untuk memasang spanduk iklan liar. Kondisi ini memperburuk estetika dan kenyamanan bagi pengguna jalan.
Kabel Fiber Optik Menjuntai di Sepanjang Jembatan
Masalah lain yang mengkhawatirkan adalah keberadaan kabel-kabel yang menjuntai sepanjang sekitar 10 meter di bagian railing jembatan. Sebagian besar kabel tersebut adalah kabel fiber optik yang menurut warga sekitar mulai bermunculan sejak pembangunan proyek LRT Jabodebek.
Ketua RT 01/RW 04 Kelurahan Cawang, Thamrin Taufik, menyatakan bahwa kabel-kabel tersebut seharusnya ditanam di bawah tanah, sesuai dengan Instruksi Gubernur Nomor 126 Tahun 2018. Namun, meskipun telah sering ditegur, pihak terkait tampak mengabaikan aturan tersebut.
"Dampaknya besar dari pembangunan LRT. Kabel-kabel ini tidak seharusnya ada di permukaan. Tapi sudah ditegur berkali-kali pun tidak ada tindakan,” kata Thamrin saat ditemui pada Sabtu (3/5/2025).
Beberapa kabel kini bahkan tampak menggantung dan terbuka, menimbulkan potensi bahaya bagi pengguna jembatan maupun pengendara di bawahnya.
Minim Perawatan Sejak Dibangun
Thamrin juga mengkritik buruknya pemeliharaan JPO ini. Sejak dibangun pada tahun 1980-an, menurutnya, perawatan yang dilakukan hanya sebatas pengecatan ulang tanpa perbaikan struktural seperti penggantian besi atau perbaikan tangga.
“Cuma dicat saja. Tidak ada perbaikan besi atau bagian lain yang rusak. Anggaran perawatan ada, tapi tidak digunakan semestinya,” ujarnya.
Seorang warga bernama Ida (50) menambahkan bahwa kondisi jembatan mulai terlihat kumuh dalam satu tahun terakhir. Ia bahkan mengaku tidak tahu siapa yang memasang kabel-kabel tersebut.
Tak Ramah untuk Penyandang Disabilitas
JPO Cawang Kompor juga dinilai tidak inklusif. Tidak ada akses bagi pengguna kursi roda, seperti jalur landai (ramp), maupun jalur taktil untuk tunanetra.
“Desainnya sudah ketinggalan zaman. Seharusnya jembatan seperti ini punya tudung dan pagar yang aman serta akses untuk disabilitas,” tambah Thamrin.
Jembatan ini juga tidak dilengkapi atap pelindung, membuat pengguna jalan harus bertahan di bawah terik matahari saat menyeberang.
