LOGIC.co.id – Pada tahun 1952, seorang tokoh marga Nababan bernama Theophulus Nababan bersama Victoria Br. Tompul dan Lingse Br. Tompul (Sijabujabu) memulai usaha toko bahan pertanian di Siborongborong. Usaha tersebut berkembang pesat dan dikenal luas, terutama di kalangan keturunan Toga Sihombing, yaitu:
- Borsak Junjungan (Silaban)
- Borsak Sirumonggur (Lumbantoruan)
- Borsak Mangatasi (Nababan)
- Borsak Binbingan (Hutasoit)
Meskipun demikian, Theophulus menyadari hasil tani keturunan Nababan selalu tertinggal dibandingkan dengan saudara-saudaranya, meski metode bercocok tanam, pupuk, dan obat hama yang digunakan sama. Begitu pula dengan hasil ternak yang sering mengalami masalah kesehatan.
Kegelisahan atas Nasib Keturunan Nababan
Beliau juga memperhatikan bahwa keturunan Borsak Mangatasi kerap tertinggal dalam pendidikan, karier, dan pangkat dibandingkan keturunan lainnya. Bahkan, sering kali mereka menghadapi hambatan seperti sakit berat, hingga beberapa meninggal dunia saat berusaha melanjutkan pendidikan atau meraih jabatan.
Pada tahun 1955, Theophulus menyampaikan kegelisahannya kepada beberapa tokoh Nababan yang mengunjungi tokonya. Mereka sepakat bahwa perlu diadakan pertemuan besar untuk memohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa leluhur, terutama Borsak Mangatasi, Sandar Nagodang, dan Tuan Sirumonggur.
Awal Doa Bersama Nababan
Setelah berbagai diskusi, diputuskan untuk mengadakan doa bersama pada tanggal 13 Oktober 1955, pukul 10 pagi, di Jalan Sadar, Siborongborong. Doa tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh Nababan dari berbagai daerah seperti Medan, Aceh, Riau, dan Sumatera Selatan. Setiap keluarga diwajibkan membayar toktok ripe sebesar Rp29,- untuk mendukung acara.
Pada kesempatan itu, para peserta duduk di tikar dan membawa nasi serta piring sendiri, sementara panitia menyediakan daging dan huahua (air rebusan daging). Setelah berdoa, mereka sepakat untuk menjadikan tanggal 13 Oktober sebagai hari doa bersama setiap tahun di desa masing-masing.
Perkembangan Tradisi Partangiangan
Pada tahun 1985, peringatan ke-30 Partangiangan Nababan diadakan kembali secara besar-besaran di Siborongborong. Tahun 2005, peringatan ke-50 diadakan dengan lebih meriah, dipimpin oleh Pdt. Dr. S.A.E. Nababan. Acara tersebut dihadiri oleh sekitar 21.000 orang dari berbagai daerah, meskipun panitia awalnya hanya menyiapkan makanan untuk 11.000 orang.
Keajaiban terjadi saat hujan deras tiba-tiba berhenti di lokasi doa, meski sekitarnya masih diguyur hujan. Peristiwa ini dianggap sebagai bentuk penyertaan Tuhan atas acara tersebut.
Refleksi dan Pesan Moral
Tradisi Partangiangan ini menjadi momen refleksi bagi keturunan Nababan, Boru, Bere, dan Ibebere. Banyak dari mereka yang kini berhasil mencapai pendidikan tinggi, karier cemerlang, dan pangkat bergengsi berkat perubahan hidup yang lebih baik.
Pesan utama dari tradisi ini adalah untuk saling menghormati, merendahkan hati, dan menjauhi sikap angkuh, iri hati, serta permusuhan. Sebagaimana motto yang diwariskan:
- Manat Mardongan Tubu
- Somba Marhula Hula
- Elekt Marboru
Demikianlah sejarah singkat Partangiangan Nababan, Boru, Bere, dan tradisi doa bersama yang dimulai sejak tahun 1955. Semoga tradisi ini terus hidup sebagai wujud rasa syukur dan introspeksi kepada Tuhan.